Avengers: Doomsday vs Avengers: Endgame: Mampukah Film Baru Marvel Mengalahkan Momen Paling Gila dalam Sejarah MCU?
Ada pertanyaan yang mungkin akan terus menghantui fandom Marvel sampai Avengers: Doomsday benar-benar tayang:
Bisakah film Avengers berikutnya mengalahkan Avengers: Endgame?
Bukan cuma soal box office.
Bukan cuma soal jumlah karakter.
Bukan cuma soal siapa yang punya CGI paling mahal.
Ini soal sesuatu yang jauh lebih susah untuk ditiru:
pengalaman menonton.
Karena Avengers: Endgame bukan sekadar film.
Pada 2019, film tersebut terasa seperti sebuah acara global.
Orang-orang datang ke bioskop dengan satu tujuan: melihat bagaimana kisah 11 tahun Marvel Cinematic Universe berakhir.
Ada yang memakai kostum.
Ada yang menghindari spoiler seperti menghindari utang.
Ada yang keluar dari bioskop sambil menangis.
Ada juga yang langsung buka Twitter, sekarang X, dan berteriak:
"GILA. GUE BARU AJA LIHAT SEJARAH."
Marvel sendiri menggambarkan Endgame sebagai puncak dari perjalanan 22 film dan satu dekade MCU, sementara film tersebut mencetak debut global sekitar $1,209 miliar dan menjadi film pertama yang melewati $1 miliar hanya dalam satu akhir pekan pembukaan.
Sekarang, tujuh tahun kemudian, Marvel mencoba kembali ke wilayah yang sama.
Tapi kali ini musuhnya bukan Thanos.
Bukan Infinity Stones.
Dan bukan sekadar perang untuk menyelamatkan separuh kehidupan.
Sekarang ada Doctor Doom.
Ada Fantastic Four.
Ada X-Men klasik.
Ada wajah-wajah baru.
Ada wajah-wajah lama.
Dan ada Robert Downey Jr. yang kembali ke MCUβbukan sebagai Tony Stark, tetapi sebagai Victor von Doom.
Jadi pertanyaannya menjadi semakin brutal:
Avengers: Doomsday vs Avengers: Endgame.
Siapa yang akan menang?
Avengers: Endgame Adalah Final Boss dari Infinity Saga
Mari kita jujur.
Menciptakan film seperti Endgame hampir mustahil.
Film tersebut tidak berdiri sendirian.
Ia dibangun dari puluhan film sebelumnya.
Dari Iron Man.
Captain America.
Thor.
The Avengers.
Guardians of the Galaxy.
Black Panther.
Doctor Strange.
Dan tentu saja...
Avengers: Infinity War.
Ketika Endgame dimulai, penonton sudah mengenal karakter-karakter tersebut selama bertahun-tahun.
Kita tahu Tony Stark.
Kita tahu Steve Rogers.
Kita tahu Thor.
Kita tahu Natasha.
Kita tahu Clint.
Kita tahu Bruce.
Kita tahu Peter Parker.
Mereka bukan karakter random yang baru muncul di film ketiga.
Mereka sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak penonton.
Itulah mengapa ketika Endgame memasuki babak terakhirnya, setiap momen terasa seperti punya bobot emosional yang luar biasa.
Marvel secara resmi menyebut film tersebut sebagai penutup perjalanan 22 film dan kisah besar yang dimulai sejak Iron Man pada 2008.
Dan itulah senjata terbesar Endgame.
History.
Film tersebut punya sejarah.
Doomsday Punya Masalah Besar: Tidak Bisa Mengulang Keajaiban Endgame
Sekarang bayangkan posisi Avengers: Doomsday.
Film ini datang setelah MCU memasuki era Multiverse Saga.
Cerita menjadi jauh lebih kompleks.
Ada multiverse.
Ada varian.
Ada timeline.
Ada universe alternatif.
Ada karakter dari franchise berbeda.
Dan sekarang...
Doctor Doom.
Secara teori, ini jauh lebih besar.
Tapi lebih besar belum tentu lebih emosional.
Itulah tantangan terbesar Doomsday.
Marvel bisa saja memasukkan 50 karakter.
100 karakter.
200 karakter.
Bahkan mungkin satu karakter yang cuma muncul selama tiga detik dan langsung membuat internet menggila.
Tapi kalau penonton tidak punya hubungan emosional dengan mereka?
Ya cuma parade cameo.
Dan Marvel harus berhati-hati dengan jebakan tersebut.
Karena Endgame berhasil bukan hanya karena jumlah superhero yang banyak.
Film tersebut berhasil karena kita peduli ketika mereka bertarung.
Kita peduli ketika mereka kalah.
Dan yang paling penting...
kita peduli ketika mereka harus mengucapkan selamat tinggal.
Doctor Doom vs Thanos: Siapa yang Lebih Berbahaya?
Ini mungkin menjadi perbandingan paling menarik.
Thanos adalah villain yang memiliki satu tujuan:
Mengumpulkan Infinity Stones dan menggunakan kekuatannya untuk menghapus setengah kehidupan di alam semesta.
Sederhana.
Gila.
Tapi sangat efektif.
Doctor Doom?
Nah...
Doom itu beda kelas.
Dia bukan sekadar orang yang ingin menghancurkan dunia.
Doom adalah tipe karakter yang mungkin berkata:
"Gue bisa menyelamatkan dunia."
Lalu lima menit kemudian:
"Tapi kalian semua harus nurut sama gue."
Dan itulah yang membuatnya menarik.
Marvel dan Disney telah mengonfirmasi bahwa Robert Downey Jr. kembali ke MCU sebagai Victor von Doom, sementara Anthony dan Joe Russo kembali menyutradarai Avengers: Doomsday dan Avengers: Secret Wars.
Casting ini sendiri sudah menjadi salah satu faktor terbesar dalam hype film.
Karena selama bertahun-tahun, wajah Robert Downey Jr. identik dengan Tony Stark.
Sekarang wajah yang sama akan menjadi ancaman bagi para Avengers.
Itu bukan cuma casting.
Itu adalah psychological warfare terhadap penonton.
Bayangkan melihat Tony Stark...
Tapi dia bukan Tony Stark.
Dia adalah Doom.
Otak penonton langsung error 404.
Thanos Punya Infinity Gauntlet. Doom Punya Sesuatu yang Lebih Berbahaya
Thanos adalah ancaman karena kekuatannya.
Doom bisa menjadi ancaman karena...
otaknya.
Ini yang membuat pertarungan keduanya sulit dibandingkan.
Thanos memiliki kekuatan luar biasa.
Tapi Doom adalah kombinasi antara:
Kalau Thanos menghancurkan sesuatu karena percaya itu perlu...
Doom bisa saja menyelamatkan sesuatu...
lalu mengklaim bahwa dunia sekarang adalah miliknya.
Dan inilah alasan kenapa Doomsday berpotensi memiliki villain yang secara naratif lebih fleksibel.
Thanos adalah ancaman.
Doom bisa menjadi ancaman sekaligus solusi.
Dan villain yang percaya dirinya adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dunia?
Biasanya...
justru orang seperti itu yang bikin dunia makin berantakan.
Avengers: Endgame Punya Satu Momen yang Mungkin Tidak Akan Pernah Terulang
Sekarang kita bicara tentang adegan paling ikonik.
"Avengers... Assemble."
Kalimat itu bukan sekadar dialog.
Itu adalah payoff dari bertahun-tahun cerita.
Steve Rogers akhirnya mendapatkan momen yang sudah ditunggu fans sejak lama.
Dan ketika portal terbuka...
Satu per satu hero muncul.
Spider-Man.
Black Panther.
Guardians.
Doctor Strange.
Wakanda.
Wizards.
Dan seluruh pasukan.
Kemudian Steve memimpin mereka.
Avengers Assemble.
Itulah jenis momen yang tidak bisa diproduksi setiap lima tahun.
Karena kalau Marvel melakukan hal yang sama di Doomsday...
Penonton mungkin akan berkata:
"Bro, kita pernah lihat ini."
Jadi Doomsday harus menemukan momennya sendiri.
Bukan meniru Endgame.
Bukan mencoba membuat versi kedua dari Avengers Assemble.
Tetapi menciptakan sesuatu yang membuat generasi berikutnya berkata:
"Gue ingat persis saat pertama kali melihat adegan itu."
Dan itu...
sangat sulit.
Tapi Doomsday Memiliki Satu Keunggulan yang Tidak Dimiliki Endgame
Kalau Endgame memiliki sejarah...
Doomsday memiliki ketidakpastian.
Dan ini sangat penting.
Pada 2019, penonton tahu bahwa Endgame adalah film penutup Infinity Saga.
Mereka tahu film itu adalah klimaks.
Tapi sekarang?
Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana Multiverse Saga akan berakhir.
Kita belum tahu apa yang akan dilakukan Doctor Doom.
Kita belum tahu seberapa besar peran X-Men.
Kita belum tahu bagaimana Fantastic Four terlibat.
Kita belum tahu apakah universe akan bertabrakan.
Kita belum tahu siapa yang akan bertahan.
Dan kita belum tahu...
siapa yang akan dikorbankan.
Itulah kekuatan Doomsday.
Ketidakpastian.
Kalau Marvel berhasil menjaga rahasia dengan baik, film ini bisa menciptakan hype yang berbeda dari Endgame.
Bukan hype karena:
"Ini akhir dari semuanya."
Tapi:
"BRO, KITA SAMA SEKALI NGGAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI."
X-Men Bisa Membuat Doomsday Lebih Besar dari Endgame
Inilah kartu paling liar Marvel.
X-Men.
Marvel dan Disney telah mengonfirmasi sejumlah nama besar dari era film X-Men sebelumnya untuk Doomsday, termasuk Patrick Stewart, Ian McKellen, Alan Cumming, Rebecca Romijn, dan James Marsden. Film ini juga memiliki jajaran besar karakter MCU dan Fantastic Four.
Dan ini mengubah permainan.
Karena Endgame menyatukan karakter-karakter yang sebagian besar sudah dibangun di dalam MCU.
Doomsday berpotensi melakukan sesuatu yang berbeda:
menyatukan beberapa generasi Marvel.
MCU.
X-Men era Fox.
Fantastic Four.
Karakter baru.
Karakter lama.
Dan mungkin berbagai realitas.
Kalau dieksekusi dengan benar, Doomsday bisa menjadi semacam:
"Marvel Cinematic Universe: Multiverse Edition."
Semua orang masuk.
Semua orang panik.
Doom berdiri di tengah.
Dan penonton mencoba mengingat:
"Ini karakter siapa? Dari universe mana? Kok dia masih hidup?"
Selamat datang di Multiverse Saga.
Doomsday Bisa Menjadi Film Avengers Paling "Gila"
Kalau kita bicara soal skala murni, Doomsday mungkin punya peluang untuk menjadi film Avengers terbesar.
Bukan karena emosinya.
Tapi karena konsepnya.
Endgame adalah perang untuk menyelamatkan kehidupan.
Doomsday berpotensi menjadi perang untuk menentukan:
realitas mana yang berhak hidup.
Skalanya berbeda.
Thanos ingin mengubah populasi.
Doom bisa saja ingin mengubah struktur realitas itu sendiri.
Dan kalau Doomsday benar-benar mengarah menuju Secret Wars, maka film ini mungkin bukan sekadar final battle.
Ini bisa menjadi:
awal dari kehancuran MCU lama.
Marvel sudah menetapkan Secret Wars sebagai film berikutnya setelah Doomsday, dengan Russo Brothers kembali sebagai sutradara.
Artinya, Doomsday memiliki pekerjaan yang sangat berat.
Ia harus menjadi film yang memuaskan...
sekaligus menyiapkan sesuatu yang lebih besar.
Endgame Menang di Emotional Damage
Kalau pertanyaannya:
Film mana yang kemungkinan lebih emosional?
Untuk saat ini, jawabannya masih:
Endgame.
Dan mungkin akan selalu begitu.
Kenapa?
Karena film itu memiliki satu keunggulan yang tidak bisa dibeli dengan CGI.
Waktu.
Tony Stark dan Steve Rogers sudah bersama kita selama bertahun-tahun.
Natasha.
Clint.
Thor.
Bruce.
Kita melihat mereka tumbuh.
Kita melihat mereka bertengkar.
Kita melihat mereka kalah.
Dan akhirnya...
kita melihat mereka membuat pengorbanan terbesar.
Tony Stark.
Steve Rogers.
Natasha Romanoff.
Mereka semua memiliki perjalanan emosional yang sangat panjang.
Itulah mengapa Endgame terasa personal.
Doomsday harus membangun semua itu lagi.
Dan itu tidak mudah.
Tapi Doomsday Bisa Menang di "Holy Sh*t Moment"
Sekarang kita balikkan situasinya.
Kalau pertanyaannya:
Film mana yang berpotensi memiliki momen paling mengejutkan?
Doomsday punya peluang besar.
Karena semua kemungkinan terbuka.
Doctor Doom sebagai villain.
Robert Downey Jr. dalam peran baru.
X-Men.
Fantastic Four.
Avengers.
Multiverse.
Dan koneksi menuju Secret Wars.
Ini adalah resep untuk satu hal:
plot twist.
Marvel bisa saja membuat satu momen yang benar-benar tidak diprediksi siapa pun.
Karakter yang tiba-tiba muncul.
Universe yang runtuh.
Hero yang berubah menjadi villain.
Villain yang ternyata bukan villain.
Atau...
sesuatu yang bahkan lebih gila.
Dan kalau Marvel berhasil menyimpan rahasia tersebut sampai film tayang?
Internet akan meledak.
Bukan meledak biasa.
Meledak sampai admin media sosial Marvel mungkin harus mengetik:
"Guys, please calm down."
Spoiler:
Mereka tidak akan calm down.
Avengers: Doomsday vs Endgame: Mana yang Lebih Besar?
Kalau kita membuat perbandingan sementara:
Kategori| Avengers: Endgame| Avengers: Doomsday Emotional Impact| π Sangat kuat| Belum diketahui Nostalgia| π Sangat tinggi| Sangat tinggi Villain| Thanos| Doctor Doom MCU Legacy| π Penutup Infinity Saga| Potensi titik balik Multiverse Saga Character Count| Sangat besar| Berpotensi lebih besar X-Men| Tidak hadir| π Hadir Fantastic Four| Tidak hadir| π Hadir Multiverse| Terbatas| π Elemen utama Surprise Factor| Tinggi| π Sangat tinggi Box Office Potential| π Terbukti historis| Belum terbukti Fan Hype| π Fenomenal| Sangat tinggi Emotional Goodbye| π Ikonik| Belum diketahui
Kesimpulannya?
Endgame menang di sejarah.
Doomsday menang di potensi.
Dan perbedaan ini sangat penting.
Karena Endgame sudah membuktikan apa yang bisa dilakukannya.
Doomsday masih harus membuktikan semuanya.
Bisakah Avengers: Doomsday Mengalahkan Box Office Endgame?
Ini pertanyaan yang pasti akan muncul.
Dan jawaban jujurnya:
Bisa? Ya.
Mudah? Sama sekali tidak.
Endgame memiliki kondisi yang hampir sempurna.
Film tersebut merupakan payoff dari perjalanan panjang MCU dan menghasilkan debut global sekitar $1,209 miliar, sebelum kemudian menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar dalam sejarah perfilman. Marvel sendiri mencatat bahwa film tersebut menjadi film pertama yang menembus $1 miliar pada akhir pekan pembukaannya.
Doomsday memiliki beberapa keuntungan:
Secara teori?
Box office monster.
Tapi ada satu masalah.
Publik tidak selalu datang ke bioskop hanya karena sebuah film memiliki banyak karakter.
Mereka datang karena mereka peduli.
Dan Marvel harus memastikan penonton benar-benar peduli pada karakter-karakter baru sebelum Doomsday mencapai klimaksnya.
Robert Downey Jr. Adalah Senjata Rahasia Sekaligus Risiko Terbesar
Mari kita bicara tentang elephant in the room.
Robert Downey Jr.
Bagi banyak orang, dia adalah Tony Stark.
Iron Man.
Jantung MCU.
Sekarang dia kembali sebagai Doctor Doom.
Ini bisa menjadi keputusan casting paling genius dalam sejarah MCU.
Atau...
bisa menjadi salah satu tantangan terbesar.
Kalau penonton terus melihat Tony Stark di balik topeng Doom, karakter tersebut bisa kehilangan identitasnya.
Tapi kalau Downey berhasil membuat Victor von Doom terasa benar-benar berbeda?
Game over.
Bayangkan Tony Stark versi gelap.
Bukan.
Jangan begitu.
Doom bukan Tony Stark jahat.
Dia harus menjadi karakter yang berbeda.
Lebih dingin.
Lebih manipulatif.
Lebih obsesif.
Lebih mengerikan.
Kalau Downey bisa melakukan itu, maka Doomsday memiliki sesuatu yang Endgame tidak punya:
villain dengan wajah yang secara emosional sangat familiar bagi penonton.
Dan itu...
bisa sangat powerful.
Russo Brothers Kembali: Nostalgia atau Magic Reborn?
Anthony dan Joe Russo memiliki hubungan yang sangat kuat dengan era klasik MCU.
Mereka menyutradarai:
Captain America: The Winter Soldier.
Captain America: Civil War.
Avengers: Infinity War.
Avengers: Endgame.
Sekarang mereka kembali untuk Doomsday dan Secret Wars.
Artinya, Marvel memberikan proyek ini kepada dua sutradara yang sudah memahami bagaimana rasanya mengelola ensemble cast raksasa.
Mereka tahu bagaimana menggabungkan karakter.
Mereka tahu bagaimana membuat konflik besar terasa personal.
Dan mereka tahu satu hal yang sangat penting:
cara membuat superhero menangis.
Tapi mereka juga menghadapi tantangan baru.
Endgame punya narasi yang sangat jelas.
Doomsday memiliki dunia yang jauh lebih rumit.
Kalau Russo Brothers bisa membuat Multiverse Saga terasa sesederhana dan emosional seperti Infinity Saga?
Maka kita punya sesuatu yang sangat spesial.
Kalau Endgame Adalah "The End", Maka Doomsday Adalah "The Beginning of the End"
Ini mungkin cara terbaik untuk membandingkan keduanya.
Endgame adalah akhir.
Ia melihat ke belakang.
Melihat perjalanan 11 tahun.
Melihat apa yang sudah dibangun.
Melihat siapa yang harus pergi.
Sementara Doomsday kemungkinan besar melihat ke depan.
Ia bertanya:
"Apa yang terjadi ketika semua universe mulai bertabrakan?"
"Apa yang terjadi ketika karakter-karakter dari dunia berbeda bertemu?"
"Apa yang terjadi ketika Doctor Doom memutuskan bahwa hanya dirinya yang bisa menyelamatkan semuanya?"
Dan yang paling penting:
"Apa yang terjadi setelah dunia lama tidak bisa diselamatkan lagi?"
Itulah mengapa Doomsday mungkin memiliki fungsi yang sangat berbeda.
Endgame menutup buku.
Doomsday mungkin membakar perpustakaannya.
Dan Secret Wars?
Mungkin menulis buku baru dari abu yang tersisa.
Verdict: Avengers: Endgame vs Avengers: Doomsday
Jadi...
Apakah Avengers: Doomsday akan mengalahkan Avengers: Endgame?
Untuk sekarang, saya akan bilang:
Belum tentu.
Dan itu justru membuat semuanya semakin menarik.
Endgame memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli:
warisan.
Ia adalah hasil dari 11 tahun cerita.
Ia adalah payoff.
Ia adalah nostalgia.
Ia adalah perpisahan.
Ia adalah momen ketika jutaan penonton di seluruh dunia merasa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang benar-benar spesial.
Doomsday memiliki senjata yang berbeda:
ketidakpastian.
Ia memiliki Doctor Doom.
Ia memiliki Robert Downey Jr. dalam peran baru.
Ia memiliki X-Men.
Ia memiliki Fantastic Four.
Ia memiliki multiverse.
Dan ia memiliki jalan langsung menuju Secret Wars.
Marvel bahkan menjadwalkan perilisan ulang Avengers: Endgame di bioskop pada 25 September 2026, beberapa bulan sebelum Doomsday tiba pada 18 Desember 2026. Secara strategi, ini adalah cara yang sangat menarik untuk mengingatkan penonton pada warisan Endgame sebelum memasuki babak baru MCU.
Dan mungkin...
itu adalah jawaban sebenarnya.
Marvel tidak sedang mencoba membuat Doomsday menggantikan Endgame.
Marvel sedang mencoba membuat Doomsday menjadi sesuatu yang berbeda.
Karena kalau Endgame adalah tentang:
"Apa yang harus kita korbankan untuk menyelamatkan dunia?"
Maka Doomsday mungkin akan bertanya:
"Dunia mana yang harus kita korbankan?"
Dan itu adalah pertanyaan yang jauh lebih mengerikan.
Pada akhirnya, Avengers: Endgame mungkin akan tetap menjadi standar emas untuk film superhero selama bertahun-tahun.
Tapi Avengers: Doomsday punya kesempatan untuk menciptakan standarnya sendiri.
Kalau Marvel berhasil?
Kita mungkin akan melihat sejarah terulang.
Bukan dengan cara yang sama.
Bukan dengan momen yang sama.
Bukan dengan hero yang sama.
Tapi dengan sesuatu yang bahkan lebih gila.
Karena pada 2019, Marvel mengajak kita melihat para Avengers melawan Thanos.
Pada 2026, Marvel mungkin mengajak kita melihat...
seluruh realitas melawan Doctor Doom.
Dan kalau itu benar-benar terjadi?
Well...
Good luck, internet.
Kita akan membutuhkan lebih dari satu server untuk menghadapi hype ini.